Mikael H Lencau ; Ini Bahasa Visual Filosofi Leluhur Borneo
KALIMANTAN – Di balik keindahan motif geometris dan figuratif pada rumah adat, senjata pusaka, hingga perabotan sehari-hari masyarakat Dayak di Kalimantan, tersimpan sebuah “bahasa” yang tak tertulis namun penuh makna.
Seni ukir Dayak bukan sekadar ornamen estetis ; ia adalah manifestasi visual dari kosmologi, hukum adat, dan hubungan spiritual antara manusia, alam, serta leluhur. Kini, warisan bernilai tinggi ini menghadapi tantangan regenerasi sekaligus peluang baru di era ekonomi kreatif.
Motif sebagai Simbol Kehidupan
Setiap goresan pahat pada kayu ulin atau besi memiliki narasi tersendiri. Berbeda dengan seni ukir daerah lain yang sering kali bersifat dekoratif murni, ukiran Dayak sangat fungsional secara filosofis. ungkap mikael.
Motif Tanduk Kerbau (Ruang), misalnya, melambangkan kemakmuran, kekuatan, dan status sosial dalam tatanan masyarakat adat. Sementara motif Matahari (Tanggui) merepresentasikan sumber kehidupan, kehangatan, dan petunjuk arah bagi jiwa yang tersesat. Ada pula motif Burung Enggang (Kenyalang) yang dianggap suci sebagai perantara dunia atas dan bawah, serta motif Naga (Asau) yang melambangkan penjaga air dan kesuburan tanah.
“Pahat itu bukan hanya soal ketangkasan tangan, tapi juga ketenangan hati dan pemahaman akan cerita leluhur. Satu kesalahan garis bisa mengubah makna sakral menjadi hal yang tabu,” ujar seorang pengrajin senior ” Mikael H Lencau dari Sanggar Budaya Dayak di Kalimantan Utara .
Pergeseran Fungsi , Dari Sakral ke Komersial pada era moderen ini membuat banyak diminati dan dipakai oleh Orang orang umumnya.
Dahulu, seni ukir Dayak hanya boleh dibuat oleh orang-orang tertentu yang telah melalui ritual inisiasi dan memahami pantangan-pantangan adat. Ukiran digunakan untuk memohon keselamatan saat panen, upacara kematian (Tiwah), atau penobatan kepala adat.
Namun, seiring masuknya pasar pariwisata dan permintaan komoditas suvenir, fungsi ukiran mulai bergeser. Banyak motif sakral kini direproduksi secara massal untuk gantungan kunci, bingkai foto, atau hiasan dinding modern hingga gapura pintu gerbang desa / batas kabupaten antar rovinsi di kalimantan .
Fenomena ini memicu perdebatan di kalangan tokoh adat. Di satu sisi, komersialisasi membantu perekonomian pengrajin dan memperkenalkan budaya Dayak ke kancah global. Di sisi lain, ada kekhawatiran terjadinya desakralisasi dan kehilangan makna asli jika produksi tidak didampingi edukasi yang memadai.
Tantangan Regenerasi dan Inovasi Material
Isu paling mendesak saat ini adalah regenerasi pewaris ilmu ukir. Generasi muda Dayak yang terpapar pendidikan formal dan teknologi digital cenderung meninggalkan profesi pengrajin yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikuasai. Banyak sanggar tradisional kini hanya dihuni oleh seniman berusia di atas 50 tahun.
Selain masalah SDM, ketersediaan bahan baku juga menjadi ancaman. Kayu ulin dan kayu keras lainnya yang berkualitas semakin langka akibat alih fungsi lahan hutan.
Sebagai respons, sejumlah komunitas dan pemerintah daerah mulai mendorong inovasi material alternatif, seperti penggunaan kayu sengon, bambu laminasi, atau bahkan resin sintetis yang ramah lingkungan namun tetap mempertahankan karakteristik tekstur ukiran asli.
Pelestarian Melalui Pendidikan dan Digitalisasi
Upaya penyelamatan seni ukir Dayak kini bergerak ke arah yang lebih sistematis. Beberapa sekolah menengah kejuruan (SMK) dan universitas di Kalimantan telah memasukkan kurikulum muatan lokal tentang kriya Dayak. Selain itu, pendokumentasian motif-motif langka melalui digitalisasi dan database terbuka mulai digalakkan agar tidak punah bersama berpulangnya para maestro tua.
Festival seni ukir dan pameran kriya nasional juga menjadi wadah penting bagi pengrajin muda untuk berkreasi tanpa harus meninggalkan akar tradisi. Kolaborasi antara desainer modern dan pengrajin adat menghasilkan produk fashion, furnitur, dan arsitektur kontemporer yang tetap menghormati pakem motif asli.
Sebagai Penutup
Seni ukir Dayak merupakan cerminan identitas yang hidup. Ia menuntut kita untuk tidak hanya melihatnya sebagai objek pajangan, melainkan sebagai teks budaya yang perlu dibaca, dipahami, dan dirawat.
Melestarikan ukiran Dayak berarti menjaga agar “bahasa” leluhur Borneo tetap terdengar di tengah riuhnya zaman, bukan sebagai artefak mati di museum, melainkan sebagai napas kreativitas yang terus berdenyut.
Catatan Redaksi : Artikel ini disusun berdasarkan observasi umum terhadap perkembangan seni kriya di Kalimantan.
Mikael Lencau, salah satu pemuda kalimantan utara yang bersemangat melestarikan Seni Ukir Dayak ini, beliau mengagendakan kedepan untuk memberi pelatihan kepada pemuda pemudi di desa dan sekitar kampungnya.
” SEMANGAT PAK Mikael “.
Untuk informasi spesifik mengenai sanggar, jadwal pelatihan, atau regulasi perlindungan hak kekayaan intelektual komunal, pembaca disarankan menghubungi Dinas Kebudayaan setempat atau lembaga adat terkait. (jay)

















