Dari Atas Awan Yang Tinggi Tanah Kelahiran Menyapa

1778068833688
banner 120x600
banner 468x60

Oleh : Tomy Satria Yulianto
Editor ; Jay

Pesawat sedikit bergoyang. Turbulensi ringan yang biasa saja, namun cukup membuat suasana hening sejenak. Untuk mengalihkan rasa gelisah, telinga saya tak sengaja menangkap percakapan hangat di sebelah.

Seorang penumpang di kursi tengah membuka suara ke arah lorong, ” Orang Berau ? ”

“Bukan, saya pendatang dari Bulukumba,” jawab yang disapa.

” Saya juga orang Bulukumba ! ” sahut yang pertama dengan nada antusias.

Mendengar nama daerah itu, jiwa korsa ke-Bulukumba-an saya seketika meronta. Rasa ingin ikut nimbrung tak terbendung. Saya pun menoleh.

Belum sempat saya buka mulut, penumpang di lorong itu justru lebih dulu bersuara, “Pak Tomy?”

Ternyata, sejak awal naik pesawat, wajah saya sudah dianggap familiar. “Pantas rasanya tidak asing, Pak,” timpal penumpang di kursi tengah.

Obrolan pun mengalir deras. Dan yang lebih mengejutkan, kami ternyata bukan hanya sesama warga Bulukumba. Kami bertiga berasal dari kecamatan yang sama: Bulukumpa!

Yang di lorong, ternyata warga Desa Barugae.
Yang di tengah, berasal dari Desa Jojjolo.
Dan saya… adalah bagian dari mereka.

Di atas langit, 30.000 kaki dari permukaan bumi, kami dipertemukan oleh ikatan tanah kelahiran yang sama. Getaran pesawat dan turbulensi yang tadi terasa menegangkan, mendadak berubah menjadi latar belakang sebuah reuni kecil yang begitu hangat.

Kami tertawa lepas, bertukar kabar sanak famili, bernostalgia tentang hiruk pikuk pasar tradisional, aroma khas cengkeh di kebun-pegunungan, hingga kenangan jalan yang becek dan berlumpur setiap kali hujan turun. Tiga kepala yang berbeda, namun menyimpan satu ingatan yang sama tentang rumah.

Akhirnya, roda pesawat menyentuh landasan. Kami harus berpisah, kembali pada realita masing-masing untuk berjuang mencari sesuap nasi di perantauan. Namun, sebelum melangkah keluar dari pintu kedatangan, satu janji terucap, “Pasti ngopi bareng beberapa hari ke depan “.

Kadang hidup bekerja dengan cara yang begitu ajaib dan tak terduga. Ia mempertemukan, mengingatkan, lalu menguatkan hati bahwa sejauh apa pun kaki melangkah pergi, tanah kelahiran itu akan selalu punya cara sendiri untuk menyapa.

Salam Bumi Panrita Lopi –
” Mali Siparappe Tallang Sipakahua”

What’s life… mungkin memang sesederhana itu. ✌🤘👍

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *